Kompleksitas sosial, begitulah kiranya ungkapan yang paling sesuai dengan apa yang aku rasakan saat. Diberbagai daerah, lagi-lagi ini menjadi suatu hambatan bagi mereka yang ingin masuk ke dalamnya. entahkah itu pemerintah dengan segala manuver-manuver kebijakannya ataupun mereka yang ingin tetap exist dalam dunia yang hanya sesaat ini. Tak dapat dipungkiri bahwasannya aku sendiri telah larut dalam komplesitas itu.
Bagi ku, bagian terkecil dari kompleksitas ini adalah hubungan ku dengan keluarga dan teman. Patut ku syukuri bahwa keadaan keluargaku baik-baik saja saat ini (alahamdulillah). Namun, hal terkompleks yang sangat dapat aku rasakan adalah hubungan ku terhadap teman. Pernahkah kalian menghitung jumlah teman yang kalian miliki? Secara gamblang tentu tidak, tetapi kalian akan melihat nominal jumlah teman kalian di account FB kalian masing-masing. Tentu saja, begitu repotnya kita ketika teman FB kita ingin chat salam waktu yang bersamaan. Bagaimana dengan kehidupan nyata?
Jika memang benar dunia ini adalah panggung sandiwara, maka kemampuan ku untuk memainkan peran dalam sandiwara ini sangatlah minim. Mungkin aku tidak akan mendapatkan award namun aku akan terus berusaha untuk bisa terus exist di dalamnya. Sebaliknya, jika dunia ini telah memiliki takdir, maka takdir sesungguhnya adalah kematian.
Mencoba memahami apa yang telah ku alami dalam hidup ini ternyata tidak cukup bagiku untuk memutuskan langkahku.
0 komentar:
Posting Komentar