Pages

Jumat, Februari 18, 2011

PERTAMAX (bagian 3)

Setelah sekian lama ini terjadi, saya pun memiliki pertanyaan-pertanyaan yang terus berakar dan menjalar dalam pikiran ini hingga saya pun tidak dapat membatasinya. Pertanyaan-pertanyaan terus muncul hingga akhirnya turun-temurun menjadi pertanyaan-pertanyaan yang kecil.
  1. Mengapa tidak ada training dasar untuk kami? (Mengapa hanya ada pejelasan secara umum saja atau lebih cocok dikatakan hanya pemberitahuan saja?)
  2. Mengapa tidak ada kejelasan kontrak? (kontrak awal hanya 3 bulan tetapi bekerja hingga 6 bulan dan pada saat 6 bulan kontrak diputus dengan menandatangani perpanjangan kontrak 3 bulan sebelumnya dan pemutusan kontrak)
  3. Mengapa kami didiskriminasi? (selalu saja ada pembicaraan buruk dibelakang kami)
  4. Mengapa kami tidak dapat menerima pembaruan ketentuan-ketentuan yang berlaku?
  5. Mengapa kami dianggap seperti anak kecil yang tidak berdaya?

PERTAMAX (bagian 2)


. . . motivasi terbesar dalam hal pekerjaan saya ini adalah ketika achieve target. Dengan itu, saya bisa merasakan dan terus mengexplore selling skill dengan kondisi yang dinamis.
Tetapi yang namanya ujian/cobaan atau apalah itu, tidak terhenti cukup sampai disitu. Bulan berikutnya saya di uji dengan claim of fresh fund oleh pimpinan saya sendiri. Pasalnya, tindak lanjut akan hal itu dilakukan oleh pimpinan saya sendiri walaupun pada awalnya saya yang mempertemukannya. Don’t worry, it’s not my.
Banyak pertanyaan muncul akan kondisi tersebut. Saya berasumsi bahwa mereka yang bertanya adalah mereka yang tidak mengetahui apa-apa dan pertanyaan-pertanyaan itupun wajib saya jawab.
Sampai pada suatu saat, who’s want not to a promotion?everybody happy if get promotion? Tentunya, harus melewati beberapa tahap prosedural.
Step by step I’ve got finished the test but what the end? What I get? Yeah, I’m not.

PERTAMAX (bagian 1)


Tidak terasa 1 tahun telah terlewati sejak saya diberi gelar sarjana. Banyak hal yang telah dilalui, banyak pembelajaran yang membuat wawasan ini bertambahkan bahkan banyak fakta demi fakta yang semakin kasat mata.
Sejak dinobatkannya saya menjadi “si pencari kerja”, hampir 5 bulan lamanya saya berusaha mencari penghasilan untuk memenuhi permintaan-permintaan dasar akan seorang manusia hingga akhirnya saya memberanikan diri untuk masuk kedalam system yang selama ini sebenarnya saya sendiri menentangnya. Ya, benar. Saya sangat menentang adanya system outsourching dalam dunia kerja ini. Bagaimana nasib para buruh yang selalu dipertanyakan akibat dari outsourching ini.
Hingga akhirnya saya sendiri merasakan bagaimana sesungguhnya system ini.
Akibat dari kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, masuk kedalam sistem yang tidak diinginkan dan pada akhirnya….. argh……………….sudahlah……