Cara mengetahui IP address tanpa software apapun di Windows gampang lho.
Caranya :
Klik start > Run
ketik cmd
nanti muncul layar DOS
lalu ketik ipconfig
Rabu, November 25, 2009
Jumat, April 10, 2009
We Will Not Go Down
terjemahan :
Cahaya putih yang membutakan mata
Menyala terang di langit Gaza malam ini
Orang-orang berlarian untuk berlindung
Tanpa tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati
Mereka datang dengan tank dan pesawat
Dengan berkobaran api yang merusak
Dan tak ada yang tersisa
Hanya suara yang terdengar di tengah asap tebal
Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini
Wanita dan anak-anak
Dibunuh dan dibantai tiap malam
Sementara para pemimpin nun jauh di sana
Berdebat tentang siapa yg salah & benar
Tapi kata-kata mereka sedang dalam kesakitan
Dan bom-bom pun berjatuhan seperti hujam asam
Tapi melalui tetes air mata dan darah serta rasa sakit
Anda masih bisa mendengar suara itu di tengah asap tebal
Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini
Cahaya putih yang membutakan mata
Menyala terang di langit Gaza malam ini
Orang-orang berlarian untuk berlindung
Tanpa tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati
Mereka datang dengan tank dan pesawat
Dengan berkobaran api yang merusak
Dan tak ada yang tersisa
Hanya suara yang terdengar di tengah asap tebal
Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini
Wanita dan anak-anak
Dibunuh dan dibantai tiap malam
Sementara para pemimpin nun jauh di sana
Berdebat tentang siapa yg salah & benar
Tapi kata-kata mereka sedang dalam kesakitan
Dan bom-bom pun berjatuhan seperti hujam asam
Tapi melalui tetes air mata dan darah serta rasa sakit
Anda masih bisa mendengar suara itu di tengah asap tebal
Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini
Intro: Am
Am C
A blinding flash of white light
A blinding flash of white light
G Am
Lit up the sky over Gaza tonight
Am C
People running for cover
G am
Not knowing whether they’re dead or alive
Dm Am
They came with their tanks and their planes
Dm Am
With ravaging fiery flames
G Am
And nothing remains
C E
Just a voice rising up in the smoky haze
(*)
F G C
We will not go down
Am G
In the night, without a fight
F C
You can burn up our mosques and our homes and our schools
Am G
But our spirit will never die
F C G
We will not go down
E Am
In Gaza tonight
Am C
Women and children alike
G Am
Murdered and massacred night after night
C Am
While the so-called leaders of countries afar
G Am
Debated on who’s wrong or right
Dm Am
But their powerless words were in vain
Dm Am
And the bombs fell down like acid rain
G Am
But through the tears and the blood and the pain
C E
You can still hear that voice through the smoky haze
F G C
We will not go down
Am G
In the night, without a fight
F c
You can burn up our mosques and our homes and our schools
am G
But our spirit will never die
F c G
We will not go down
E Am
In Gaza tonight
Dm Am G Am G E 2X
F G C
We will not go down
Am G
In the night, without a fight
Am G
But our spirit will never die
F C G
We will not go down
Am
In Gaza tonight
Lit up the sky over Gaza tonight
Am C
People running for cover
G am
Not knowing whether they’re dead or alive
Dm Am
They came with their tanks and their planes
Dm Am
With ravaging fiery flames
G Am
And nothing remains
C E
Just a voice rising up in the smoky haze
(*)
F G C
We will not go down
Am G
In the night, without a fight
F C
You can burn up our mosques and our homes and our schools
Am G
But our spirit will never die
F C G
We will not go down
E Am
In Gaza tonight
Am C
Women and children alike
G Am
Murdered and massacred night after night
C Am
While the so-called leaders of countries afar
G Am
Debated on who’s wrong or right
Dm Am
But their powerless words were in vain
Dm Am
And the bombs fell down like acid rain
G Am
But through the tears and the blood and the pain
C E
You can still hear that voice through the smoky haze
F G C
We will not go down
Am G
In the night, without a fight
F c
You can burn up our mosques and our homes and our schools
am G
But our spirit will never die
F c G
We will not go down
E Am
In Gaza tonight
Dm Am G Am G E 2X
F G C
We will not go down
Am G
In the night, without a fight
F C
You can burn up our mosques and our homes and our schoolsAm G
But our spirit will never die
F C G
We will not go down
Am
In Gaza tonight
Senin, April 06, 2009
................................................................................................
Ga tau mo mulai nulis darimana.....!!!!
sejak kecil kehidupan aku biasa aja, seneng maen layaknya anak-anak kecil lainnya. Begitu juga waktu aku ngerasain gimana jadi seorang pelajar putih abu-abu; juga ga biasa aja, termasuk cimon-cimon gitu (alias cinta monyet). Jangan dipikir kalo aku mirip monyet makanya ga ada cewe' yang nerusin hubungan itu. Saat jadi mahasiswa pun juga biasa-biasa aja. Tapi kenapa kalo urusan yang satu ini selalu aja jadi problem bagi kebanyakan orang, termasuk aku. Ya....Bener...apalagi kalo bukan yang namanya "love".Bagiku tidaklah mudah untuk menyatakan perasaan ini terhadap seorang cewe'. m....setelah kilas balik kehidupan cintaku, ternyata memang bener, ga banyak cewe' yang pernah mendengarkan kata hati ku ini. Waktu jamannya cimon, beberapa cewe' yang pernah dengerin kata hatiku lewat bibir ini ga pernah nolak bahkan ada juga mereka yang ngutarain perasaan mereka (stay cool mode on). Namun sekarang, aku ga ngeh...apa sebenernya yang namanya "love". Dulu aku pernah ngutarain apa yang aku rasain terhadap satu orang cewe' yang menurutku tepat. Tapi al-hasil, aku ditolak (aeg.......hhhhhhhhhh................####..............). Mungkin karena rasa ini tulus, ga ada penyesalan, kecewa, bahkan dendam sekalipun sama tu cewe'. Emang sih rasa itu sudah lama banget bersarang di lubuk hati ini tapi setelah kurang lebih 1 tahun baru bisa aku utarakan. m.....waktu yang tidak lama untuk membuat rasa itu telah mendirikan pondasi yang kokoh di dalam hati ini hingga saat ini rasa itu tetep ada. Mencoba untuk instropeksi diri, dengan status mahasiswa ini aku mulai berfikir jernih bahwa "dia" telah menganggap ku sebagai seorang sahabat yang tak layak untuk naik statusnya. Bisa jadi sahabat aja aku sudah seneng karena tetep bisa bersamanya. Setelah beberapa waktu, aku merasakan bahwa rasa ini semakin mengganggu kehidupan ku. Kenapa aku?ada apa dengan diriku ini? Rasa itu mulai menunjukkan aliran negatifnya yang membuat aku cemburu padanya. Memang selama ini "dia" terlihat menjaga perasaanku tapi aku sungguh merasa cemburu ketika tau dia telah ..... Sekali lagi aku mencoba untuk menenangkan diri ini, mencoba menerima realita kehidupan ini, mnecari cara agar rasa itu hilang dari hari ini. Akupun mulai mencari kesibukkan lain, dengan berbagai aktifitas di kampus, mencari temen-temen baru berharap ketumu cewe' lain yang bisa menggugah hatiku ini tetapi, "dia" bener-bener telah berakar di dalam hati ini. Mencoba kembali menjalin hubungan yang baik sebagai intermezo untuk masuk dalam kehidupannya, namun aku tidak bisa mengetuknya. Aku mulai putus asa!!!Aku mencoba berbalik arah
namun "dia" telah menabur benih rasa itu lagi. Aku ingin marah tapi kepada siapa??? Aku mulai membiasakan diri ini untu menyendiri dan hanya menemui teman-teman yang dapat melupakan aku terhadap dirinya. Tapi mengapa ada-ada aja suatu hal yang bisa membuat aku kembali teringat kepadanya. Huh.........ternyata memang benar kata orang "semakin kita melupakannya, semakin kuat rasa itu". Mungkin itu yang aku alami, selain dia terus ada dihadapan ku dan aku selalu mencuri perhatian. Apakah salah kalo aku **** padanya??? Beberapa sahabatku mencoba memberikan nasehat agar aku tidak terlalu hanyut dalam rasa itu. Dan akupun mulai rasional dan menerima kenyataan ini. Hingga sekarang aku tetap berusaha untuk membatasi rasa ini. Sahabatku mulai memberikan penilaian tanpa tau sesungguhnya yang aku rasakan, tetapi aku sedikit bangga terhadap diriku karena menurut sahabatku aku mulai menggunakan logika+nalar yang selama ini menjadi ciri khas ku dimata para sahabatku.Setelah aku sadari, diri ini mulai kembali normal walaupun rasa itu tetap ada dan tanpa berkurang kadarnya. Aku telah mampu mengendalikan perasaan dan nalar ini walaupun aku tau bahwa dia telah ada yan memiliki termasuk sahabatku yang lain mencoba memancing rasa itu kembali kepermukaan, namun aku telah membelenggunya.
sejak kecil kehidupan aku biasa aja, seneng maen layaknya anak-anak kecil lainnya. Begitu juga waktu aku ngerasain gimana jadi seorang pelajar putih abu-abu; juga ga biasa aja, termasuk cimon-cimon gitu (alias cinta monyet). Jangan dipikir kalo aku mirip monyet makanya ga ada cewe' yang nerusin hubungan itu. Saat jadi mahasiswa pun juga biasa-biasa aja. Tapi kenapa kalo urusan yang satu ini selalu aja jadi problem bagi kebanyakan orang, termasuk aku. Ya....Bener...apalagi kalo bukan yang namanya "love".Bagiku tidaklah mudah untuk menyatakan perasaan ini terhadap seorang cewe'. m....setelah kilas balik kehidupan cintaku, ternyata memang bener, ga banyak cewe' yang pernah mendengarkan kata hati ku ini. Waktu jamannya cimon, beberapa cewe' yang pernah dengerin kata hatiku lewat bibir ini ga pernah nolak bahkan ada juga mereka yang ngutarain perasaan mereka (stay cool mode on). Namun sekarang, aku ga ngeh...apa sebenernya yang namanya "love". Dulu aku pernah ngutarain apa yang aku rasain terhadap satu orang cewe' yang menurutku tepat. Tapi al-hasil, aku ditolak (aeg.......hhhhhhhhhh................####..............). Mungkin karena rasa ini tulus, ga ada penyesalan, kecewa, bahkan dendam sekalipun sama tu cewe'. Emang sih rasa itu sudah lama banget bersarang di lubuk hati ini tapi setelah kurang lebih 1 tahun baru bisa aku utarakan. m.....waktu yang tidak lama untuk membuat rasa itu telah mendirikan pondasi yang kokoh di dalam hati ini hingga saat ini rasa itu tetep ada. Mencoba untuk instropeksi diri, dengan status mahasiswa ini aku mulai berfikir jernih bahwa "dia" telah menganggap ku sebagai seorang sahabat yang tak layak untuk naik statusnya. Bisa jadi sahabat aja aku sudah seneng karena tetep bisa bersamanya. Setelah beberapa waktu, aku merasakan bahwa rasa ini semakin mengganggu kehidupan ku. Kenapa aku?ada apa dengan diriku ini? Rasa itu mulai menunjukkan aliran negatifnya yang membuat aku cemburu padanya. Memang selama ini "dia" terlihat menjaga perasaanku tapi aku sungguh merasa cemburu ketika tau dia telah ..... Sekali lagi aku mencoba untuk menenangkan diri ini, mencoba menerima realita kehidupan ini, mnecari cara agar rasa itu hilang dari hari ini. Akupun mulai mencari kesibukkan lain, dengan berbagai aktifitas di kampus, mencari temen-temen baru berharap ketumu cewe' lain yang bisa menggugah hatiku ini tetapi, "dia" bener-bener telah berakar di dalam hati ini. Mencoba kembali menjalin hubungan yang baik sebagai intermezo untuk masuk dalam kehidupannya, namun aku tidak bisa mengetuknya. Aku mulai putus asa!!!Aku mencoba berbalik arah
Rabu, April 01, 2009
Hiuf......!!!
Agama, pendidikan, prestasi dan teman itulah yang kita butuhkan dalam menjalani kehidupan ini. Begitu juga dengan ku, aku merasa sesungguhnya aku belum mensyukuri atas apa yang telah aku nikmati selama ini. Saat ini, aku tak mengerti apa yang sedang aku rasakan. Aku merasa sangat kecil dan tak berarti dihadapan sang Khalik. Terlepas dari itu semua, aku merasa sahabat-sahabat ku kian menjauh dengan kesibukannya masing-masing. Namun disisi lain, aku menemukan sesuatu yang tak ku kira ini akan terjadi padaku.
Aku merasakan sebuah perubahan yang begitu cepat dan sangat berarti atas apa yang aku miliki dan bisa ku berikan pada orang-orang terdekat ku saat ini. Aku merasa inilah saatnya apa yang dinamakan ”to be a winner : all you need is to give all you have”.Aku mengerti apa yang dirasakan sobat-sobatku, tapi apa kalian mengerti apa yang aku rasakan, sob ??? Jika orang lain mampu melewati setiap cobaannya, mengapa aku tidak ? Keyakinan ku semakin tumbuh atas apa yang sedikit aku miliki.
Aku memiliki teman yang menjelma menjadi sobat ku saat ini. Mereka sangat menggantungkan sebagian kepercayaan mereka yang kental kepada yang ku miliki sedikit. Sekali lagi, aku merasa eksistensi diriku bertambah dengan minim.
Kita tidak boleh begitu cepat melupakan sekecil apapun kebaikan yang kita terima. Begitu juga dengan apa yang ku alami. Aku percaya, dalam kehidupan ini tidak ada yang dapat sesali semata-mata atas kesalahan ku sendiri. Aku mencoba menginstropeksi aku yang dulu, begitu banyak tanda tanya dan kesamaran yang ku dapatkan. Aku sendiri tak mengerti mengapa begitu aku yang dulu ? Mencoba mereview kritikan dan nasihat dari orang-orang yang menyayangi ku, begitu berat rasanya kesesalan yang ku rasakan, tetapi apa yang pantas aku sesali dari kesalahan ku? Aku yang dulu merasa sangat hina dari aku.
Trust me. Itulah yang aku tanamkan dalam kesuburan jiwaku yang kian berkembang dengan pupuk nasehat dan kritik varietas yang ku dapatkan cuma-cuma agar bisa buktikan sesungguhnya aku ada dan tidak seperti kebanyakan orang yang mendapat images hanya akibat pandangan sebelah mata. What was going on.
Aku merasakan sebuah perubahan yang begitu cepat dan sangat berarti atas apa yang aku miliki dan bisa ku berikan pada orang-orang terdekat ku saat ini. Aku merasa inilah saatnya apa yang dinamakan ”to be a winner : all you need is to give all you have”.Aku mengerti apa yang dirasakan sobat-sobatku, tapi apa kalian mengerti apa yang aku rasakan, sob ??? Jika orang lain mampu melewati setiap cobaannya, mengapa aku tidak ? Keyakinan ku semakin tumbuh atas apa yang sedikit aku miliki.
Aku memiliki teman yang menjelma menjadi sobat ku saat ini. Mereka sangat menggantungkan sebagian kepercayaan mereka yang kental kepada yang ku miliki sedikit. Sekali lagi, aku merasa eksistensi diriku bertambah dengan minim.
Kita tidak boleh begitu cepat melupakan sekecil apapun kebaikan yang kita terima. Begitu juga dengan apa yang ku alami. Aku percaya, dalam kehidupan ini tidak ada yang dapat sesali semata-mata atas kesalahan ku sendiri. Aku mencoba menginstropeksi aku yang dulu, begitu banyak tanda tanya dan kesamaran yang ku dapatkan. Aku sendiri tak mengerti mengapa begitu aku yang dulu ? Mencoba mereview kritikan dan nasihat dari orang-orang yang menyayangi ku, begitu berat rasanya kesesalan yang ku rasakan, tetapi apa yang pantas aku sesali dari kesalahan ku? Aku yang dulu merasa sangat hina dari aku.
Trust me. Itulah yang aku tanamkan dalam kesuburan jiwaku yang kian berkembang dengan pupuk nasehat dan kritik varietas yang ku dapatkan cuma-cuma agar bisa buktikan sesungguhnya aku ada dan tidak seperti kebanyakan orang yang mendapat images hanya akibat pandangan sebelah mata. What was going on.
Apa yang mereka tuduhkan padaku ? Suara hati yang menjerit tanpa gema tak satupun dapat mendengar bisiknya. Positive thinking yang bisa ku deskripsikan dalam benakku tanpa menambah semua kesesalan yang akan kurasakan. Mengundang temanku untuk membebaskan diri dari keredupan hidup ini yang sedang ku coba. Tetapi mengapa mereka hanya . . . ah, mungkin mereka tidak bisa mendengar bisik jerit suara hatiku atau mungkin mereka telah merencanakan sesuatu dalam hidupnya. Setitik cahaya keberhasilan memang telah di depan mata, tetapi apa mereka tahu di sekelilingnya terdapat tembok yang begitu kuat dan tebal yang diselimuti hawa kesesalan yang begitu kabut ! Kita berada dalam lingkungan yang sama namun tak seperti tempurung, mengapa kita tidak mencoba mengehempaskan perlahan kabut hawa kesesalan yang menghalangi cahaya keberhasilan itu???
Senin, Maret 23, 2009
Uagh....
Live Free...
Dua kata ini lah yang membuat C!kM! kembali termotivasi dalam melakoni kehidupan di dunia (fana & maya)ini. Alih-alih untuk mengisi blog ini (alias kebingungan), akhirnya C!kM! mencoba untuk sharing dengan sodara sepupunya yang notabene juga sebagai newbie. Kenapa musti dengan sodara sepupunya? Karena kami sangat menjunjung tinggi Live Free (wuek....).Yang membedakannya hanya pada studinya aja. Karena sama-sama newbie, c!km! mencoba untuk terus motivasiin sodaranya ini untuk terus berusaha ngartiin semua ilmu-ilmu yang ada diBLOGGER, walaupun C!kM! ndiri belum terlalu FAHAM. Why are u so serious? Akhirnya, muncul lah ide untuk mempostikan satu "short story" miliknya. Penasaran pengen baca ceritanya? Nih tak kasih.....klik disini, tapi penasaran juga ga sama sodaranya C!kM!? Yups....silahkan aja kunjungin BLOGnya.
Dua kata ini lah yang membuat C!kM! kembali termotivasi dalam melakoni kehidupan di dunia (fana & maya)ini. Alih-alih untuk mengisi blog ini (alias kebingungan), akhirnya C!kM! mencoba untuk sharing dengan sodara sepupunya yang notabene juga sebagai newbie. Kenapa musti dengan sodara sepupunya? Karena kami sangat menjunjung tinggi Live Free (wuek....).Yang membedakannya hanya pada studinya aja. Karena sama-sama newbie, c!km! mencoba untuk terus motivasiin sodaranya ini untuk terus berusaha ngartiin semua ilmu-ilmu yang ada diBLOGGER, walaupun C!kM! ndiri belum terlalu FAHAM. Why are u so serious? Akhirnya, muncul lah ide untuk mempostikan satu "short story" miliknya. Penasaran pengen baca ceritanya? Nih tak kasih.....klik disini, tapi penasaran juga ga sama sodaranya C!kM!? Yups....silahkan aja kunjungin BLOGnya.
No one knew how Mr. Sticky got in the fish tank.
"He's very small," Mum said as she peered at the tiny water snail. "Just a black dot."
"He'll grow," said Abby and pulled her pyjama bottoms up again before she got into bed. They were always falling down.
In the morning Abby jumped out of bed and switched on the light in her fish tank.
Gerry, the fat orange goldfish, was dozing inside the stone archway. Jaws was already awake, swimming along the front of the tank with his white tail floating and twitching. It took Abby a while to find Mr. Sticky because he was clinging to the glass near the bottom, right next to the gravel.
At school that day she wrote about the mysterious Mr. Sticky who was so small you could mistake him for a piece of gravel. Some of the girls in her class said he seemed an ideal pet for her and kept giggling about it.
That night Abby turned on the light to find Mr. Sticky clinging to the very tiniest, waviest tip of the pond weed. It was near the water filter so he was bobbing about in the air bubbles.
"That looks fun," Abby said. She tried to imagine what it must be like to have to hang on to things all day and decided it was probably very tiring. She fed the fish then lay on her bed and watched them chase each other round and round the archway. When they stopped Gerry began nibbling at the pond weed with his big pouty lips. He sucked Mr. Sticky into his mouth then blew him back out again in a stream of water. The snail floated down to the bottom of the tank among the coloured gravel.
"I think he's grown a bit," Abby told her Mum at breakfast the next day.
"Just as well if he's going to be gobbled up like that," her Mum said, trying to put on her coat and eat toast at the same time.
"But I don't want him to get too big or he won't be cute anymore. Small things are cute aren't they?"
"Yes they are. But big things can be cute too. Now hurry up, I'm going to miss my train."
At school that day, Abby drew an elephant. She needed two pieces of expensive paper to do both ends but the teacher didn't mind because she was pleased with the drawing and wanted it on the wall. They sellotaped them together, right across the elephant's middle. In the corner of the picture, Abby wrote her full name, Abigail, and drew tiny snails for the dots on the 'i's The teacher said that was very creative.
At the weekend they cleaned out the tank. "There's a lot of algae on the sides," Mum said. "I'm not sure Mr. Sticky's quite up to the job yet."
They scooped the fish out and put them in a bowl while they emptied some of the water. Mr. Sticky stayed out of the way, clinging to the glass while Mum used the special 'vacuum cleaner' to clean the gravel. Abby trimmed the new pieces of pond weed down to size and scrubbed the archway and the filter tube. Mum poured new water into the tank.
"Where's Mr. Sticky?" Abby asked.
"On the side," Mum said. She was busy concentrating on the water. "Don't worry I was careful."
Abby looked on all sides of the tank. There was no sign of the water snail.
"He's probably in the gravel then," her mum said. "Come on let's get this finished. I've got work to do." She plopped the fish back in the clean water where they swam round and round, looking puzzled.
That evening Abby went up to her bedroom to check the tank. The water had settled and looked lovely and clear but there was no sign of Mr. Sticky. She lay on her bed and did some exercises, stretching out her legs and feet and pointing her toes. Stretching was good for your muscles and made you look tall a model had said on the t.v. and she looked enormous. When Abby had finished, she kneeled down to have another look in the tank but there was still no sign of Mr. Sticky. She went downstairs.
Her mum was in the study surrounded by papers. She had her glasses on and her hair was all over the place where she'd been running her hands through it. She looked impatient when she saw Abby in the doorway and even more impatient when she heard the bad news.
"He'll turn up." was all she said. "Now off to bed Abby. I've got masses of work to catch up on."
Abby felt her face go hot and red. It always happened when she was angry or upset.
"You've hoovered him up haven't you," she said. You were in such a rush you hoovered him up."
"I have not. I was very careful. But he is extremely small."
"What's wrong with being small?"
"Nothing at all. But it makes things hard to find."
"Or notice," Abby said and ran from the room.
The door to the bedroom opened and Mum's face appeared around the crack. Abby tried to ignore her but it was hard when she walked over to the bed and sat next to her. She was holding her glasses in her hand. She waved them at Abby.
"These are my new pair," she said. "Extra powerful, for snail hunting." She smiled at Abby. Abby tried not to smile back.
"And I've got a magnifying glass," Abby suddenly remembered and rushed off to find it.
They sat beside each other on the floor. On their knees they shuffled around the tank, peering into the corners among the big pebbles, at the gravel and the pondweed.
"Ah ha!" Mum suddenly cried.
"What?" Abby moved her magnifying glass to where her mum was pointing.
There, tucked in the curve of the archway, perfectly hidden against the dark stone, sat Mr. Sticky. And right next to him was another water snail, even smaller than him.
"Mrs Sticky!" Abby breathed. "But where did she come from?"
"I'm beginning to suspect the pond weed don't you think?"
They both laughed and climbed into Abby's bed together, cuddling down under the duvet. It was cozy but a bit of a squeeze.
"Budge up," Mum said, giving Abby a push with her bottom.
"I can't, I'm already on the edge."
"My goodness you've grown then. When did that happen? You could have put an elephant in here last time we did this."
Abby put her head on her mum's chest and smiled
"He's very small," Mum said as she peered at the tiny water snail. "Just a black dot."
"He'll grow," said Abby and pulled her pyjama bottoms up again before she got into bed. They were always falling down.
In the morning Abby jumped out of bed and switched on the light in her fish tank.
Gerry, the fat orange goldfish, was dozing inside the stone archway. Jaws was already awake, swimming along the front of the tank with his white tail floating and twitching. It took Abby a while to find Mr. Sticky because he was clinging to the glass near the bottom, right next to the gravel.
At school that day she wrote about the mysterious Mr. Sticky who was so small you could mistake him for a piece of gravel. Some of the girls in her class said he seemed an ideal pet for her and kept giggling about it.
That night Abby turned on the light to find Mr. Sticky clinging to the very tiniest, waviest tip of the pond weed. It was near the water filter so he was bobbing about in the air bubbles.
"That looks fun," Abby said. She tried to imagine what it must be like to have to hang on to things all day and decided it was probably very tiring. She fed the fish then lay on her bed and watched them chase each other round and round the archway. When they stopped Gerry began nibbling at the pond weed with his big pouty lips. He sucked Mr. Sticky into his mouth then blew him back out again in a stream of water. The snail floated down to the bottom of the tank among the coloured gravel.
"I think he's grown a bit," Abby told her Mum at breakfast the next day.
"Just as well if he's going to be gobbled up like that," her Mum said, trying to put on her coat and eat toast at the same time.
"But I don't want him to get too big or he won't be cute anymore. Small things are cute aren't they?"
"Yes they are. But big things can be cute too. Now hurry up, I'm going to miss my train."
At school that day, Abby drew an elephant. She needed two pieces of expensive paper to do both ends but the teacher didn't mind because she was pleased with the drawing and wanted it on the wall. They sellotaped them together, right across the elephant's middle. In the corner of the picture, Abby wrote her full name, Abigail, and drew tiny snails for the dots on the 'i's The teacher said that was very creative.
At the weekend they cleaned out the tank. "There's a lot of algae on the sides," Mum said. "I'm not sure Mr. Sticky's quite up to the job yet."
They scooped the fish out and put them in a bowl while they emptied some of the water. Mr. Sticky stayed out of the way, clinging to the glass while Mum used the special 'vacuum cleaner' to clean the gravel. Abby trimmed the new pieces of pond weed down to size and scrubbed the archway and the filter tube. Mum poured new water into the tank.
"Where's Mr. Sticky?" Abby asked.
"On the side," Mum said. She was busy concentrating on the water. "Don't worry I was careful."
Abby looked on all sides of the tank. There was no sign of the water snail.
"He's probably in the gravel then," her mum said. "Come on let's get this finished. I've got work to do." She plopped the fish back in the clean water where they swam round and round, looking puzzled.
That evening Abby went up to her bedroom to check the tank. The water had settled and looked lovely and clear but there was no sign of Mr. Sticky. She lay on her bed and did some exercises, stretching out her legs and feet and pointing her toes. Stretching was good for your muscles and made you look tall a model had said on the t.v. and she looked enormous. When Abby had finished, she kneeled down to have another look in the tank but there was still no sign of Mr. Sticky. She went downstairs.
Her mum was in the study surrounded by papers. She had her glasses on and her hair was all over the place where she'd been running her hands through it. She looked impatient when she saw Abby in the doorway and even more impatient when she heard the bad news.
"He'll turn up." was all she said. "Now off to bed Abby. I've got masses of work to catch up on."
Abby felt her face go hot and red. It always happened when she was angry or upset.
"You've hoovered him up haven't you," she said. You were in such a rush you hoovered him up."
"I have not. I was very careful. But he is extremely small."
"What's wrong with being small?"
"Nothing at all. But it makes things hard to find."
"Or notice," Abby said and ran from the room.
The door to the bedroom opened and Mum's face appeared around the crack. Abby tried to ignore her but it was hard when she walked over to the bed and sat next to her. She was holding her glasses in her hand. She waved them at Abby.
"These are my new pair," she said. "Extra powerful, for snail hunting." She smiled at Abby. Abby tried not to smile back.
"And I've got a magnifying glass," Abby suddenly remembered and rushed off to find it.
They sat beside each other on the floor. On their knees they shuffled around the tank, peering into the corners among the big pebbles, at the gravel and the pondweed.
"Ah ha!" Mum suddenly cried.
"What?" Abby moved her magnifying glass to where her mum was pointing.
There, tucked in the curve of the archway, perfectly hidden against the dark stone, sat Mr. Sticky. And right next to him was another water snail, even smaller than him.
"Mrs Sticky!" Abby breathed. "But where did she come from?"
"I'm beginning to suspect the pond weed don't you think?"
They both laughed and climbed into Abby's bed together, cuddling down under the duvet. It was cozy but a bit of a squeeze.
"Budge up," Mum said, giving Abby a push with her bottom.
"I can't, I'm already on the edge."
"My goodness you've grown then. When did that happen? You could have put an elephant in here last time we did this."
Abby put her head on her mum's chest and smiled
Kenapa hampir semua hasil search lewat search engine paling ngetop (GOOGLE) resultnya dalam bentuk blog? Pertanyaan ini muncul setelah C!kM! klik sana klik sini di search engine, dan ternyata para BLOGGER mencoba untuk mengapplikasikan hobinya dengan sistem "simbiosis mutualisme" (jangan tanya maksudnya), dan lebih kerennya lagi (bagi C!kM!) BLOGGER sangat cerdas dalam menspesifikasikan yang diinginkan para penghuni dunia maya dan BLOGGER-BLOGGER lainnya, termasuk C!kM! sendiri. Para BLOGGER memang sangat kreatif dalam mendesaign tujuan dan layout atas BLOG yang dimilikinya.
Walaupun C!kM! adalah "newbie" tapi tetep ga mau ketinggalan alias pengen ikutan ngeBlog (telat kali....), bagaimana pun juga C!kM! harus bisa, yakin (maksa banget). Dengan motto "pantang offline sebelum digorok", akhirnya kesedot juga ilmunya (sedikit) dan langsung deh di cobain. mmm.....ternyata enak juga (ada manis, asem asin, pahit juga) ya ..walaupun masih harus banyak-banyak belajar lagi.
Akhirnya....intermezo ini sebagai perkenalan awal BLOG ini bisa meluncur juga (tarik mang..). Untuk selanjutnya, nikmati aja...(Why are you so serious? get easy...
SALAM BLOGGER....
Walaupun C!kM! adalah "newbie" tapi tetep ga mau ketinggalan alias pengen ikutan ngeBlog (telat kali....), bagaimana pun juga C!kM! harus bisa, yakin (maksa banget). Dengan motto "pantang offline sebelum digorok", akhirnya kesedot juga ilmunya (sedikit) dan langsung deh di cobain. mmm.....ternyata enak juga (ada manis, asem asin, pahit juga) ya ..walaupun masih harus banyak-banyak belajar lagi.
Akhirnya....intermezo ini sebagai perkenalan awal BLOG ini bisa meluncur juga (tarik mang..). Untuk selanjutnya, nikmati aja...(Why are you so serious? get easy...
SALAM BLOGGER....