Pages

Senin, April 06, 2009

...............................................................................................
................................................................................................
Ga tau mo mulai nulis darimana.....!!!!
sejak kecil kehidupan aku biasa aja, seneng maen layaknya anak-anak kecil lainnya. Begitu juga waktu aku ngerasain gimana jadi seorang pelajar putih abu-abu; juga ga biasa aja, termasuk cimon-cimon gitu (alias cinta monyet). Jangan dipikir kalo aku mirip monyet makanya ga ada cewe' yang nerusin hubungan itu. Saat jadi mahasiswa pun juga biasa-biasa aja. Tapi kenapa kalo urusan yang satu ini selalu aja jadi problem bagi kebanyakan orang, termasuk aku. Ya....Bener...apalagi kalo bukan yang namanya "love".Bagiku tidaklah mudah untuk menyatakan perasaan ini terhadap seorang cewe'. m....setelah kilas balik kehidupan cintaku, ternyata memang bener, ga banyak cewe' yang pernah mendengarkan kata hati ku ini. Waktu jamannya cimon, ...beberapa cewe' yang pernah dengerin kata hatiku lewat bibir ini ga pernah nolak bahkan ada juga mereka yang ngutarain perasaan mereka (stay cool mode on). Namun sekarang, aku ga ngeh...apa sebenernya yang namanya "love". Dulu aku pernah ngutarain apa yang aku rasain terhadap satu orang cewe' yang menurutku tepat. Tapi al-hasil, aku ditolak (aeg.......hhhhhhhhhh................####..............). Mungkin karena rasa ini tulus, ga ada penyesalan, kecewa, bahkan dendam sekalipun sama tu cewe'. Emang sih rasa itu sudah lama banget bersarang di lubuk hati ini tapi setelah kurang lebih 1 tahun baru bisa aku utarakan. m.....waktu yang tidak lama untuk membuat rasa itu telah mendirikan pondasi yang kokoh di dalam hati ini hingga saat ini rasa itu tetep ada. Mencoba untuk instropeksi diri, dengan status mahasiswa ini aku mulai berfikir jernih bahwa "dia" telah menganggap ku sebagai seorang sahabat yang tak layak untuk naik statusnya. Bisa jadi sahabat aja aku sudah seneng karena tetep bisa bersamanya. Setelah beberapa waktu, aku merasakan bahwa rasa ini semakin mengganggu kehidupan ku. Kenapa aku?ada apa dengan diriku ini? Rasa itu mulai menunjukkan aliran negatifnya yang membuat aku cemburu padanya. Memang selama ini "dia" terlihat menjaga perasaanku tapi aku sungguh merasa cemburu ketika tau dia telah ..... Sekali lagi aku mencoba untuk menenangkan diri ini, mencoba menerima realita kehidupan ini, mnecari cara agar rasa itu hilang dari hari ini. Akupun mulai mencari kesibukkan lain, dengan berbagai aktifitas di kampus, mencari temen-temen baru berharap ketumu cewe' lain yang bisa menggugah hatiku ini tetapi, "dia" bener-bener telah berakar di dalam hati ini. Mencoba kembali menjalin hubungan yang baik sebagai intermezo untuk masuk dalam kehidupannya, namun aku tidak bisa mengetuknya. Aku mulai putus asa!!!Aku mencoba berbalik arah namun "dia" telah menabur benih rasa itu lagi. Aku ingin marah tapi kepada siapa??? Aku mulai membiasakan diri ini untu menyendiri dan hanya menemui teman-teman yang dapat melupakan aku terhadap dirinya. Tapi mengapa ada-ada aja suatu hal yang bisa membuat aku kembali teringat kepadanya. Huh.........ternyata memang benar kata orang "semakin kita melupakannya, semakin kuat rasa itu". Mungkin itu yang aku alami, selain dia terus ada dihadapan ku dan aku selalu mencuri perhatian. Apakah salah kalo aku **** padanya??? Beberapa sahabatku mencoba memberikan nasehat agar aku tidak terlalu hanyut dalam rasa itu. Dan akupun mulai rasional dan menerima kenyataan ini. Hingga sekarang aku tetap berusaha untuk membatasi rasa ini. Sahabatku mulai memberikan penilaian tanpa tau sesungguhnya yang aku rasakan, tetapi aku sedikit bangga terhadap diriku karena menurut sahabatku aku mulai menggunakan logika+nalar yang selama ini menjadi ciri khas ku dimata para sahabatku.Setelah aku sadari, diri ini mulai kembali normal walaupun rasa itu tetap ada dan tanpa berkurang kadarnya. Aku telah mampu mengendalikan perasaan dan nalar ini walaupun aku tau bahwa dia telah ada yan memiliki termasuk sahabatku yang lain mencoba memancing rasa itu kembali kepermukaan, namun aku telah membelenggunya.

0 komentar: