Pages

Jumat, April 10, 2009

We Will Not Go Down

terjemahan :

Cahaya putih yang membutakan mata
Menyala terang di langit Gaza malam ini
Orang-orang berlarian untuk berlindung
Tanpa tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati

Mereka datang dengan tank dan pesawat
Dengan berkobaran api yang merusak
Dan tak ada yang tersisa
Hanya suara yang terdengar di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini

Wanita dan anak-anak
Dibunuh dan dibantai tiap malam
Sementara para pemimpin nun jauh di sana
Berdebat tentang siapa yg salah & benar

Tapi kata-kata mereka sedang dalam kesakitan
Dan bom-bom pun berjatuhan seperti hujam asam
Tapi melalui tetes air mata dan darah serta rasa sakit
Anda masih bisa mendengar suara itu di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
...
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini



Intro: Am

Am C
A blinding flash of white light
G Am
Lit up the sky over Gaza tonight
Am C
People running for cover
G am
Not knowing whether they’re dead or alive

Dm Am
They came with their tanks and their planes
Dm Am
With ravaging fiery flames
G Am
And nothing remains

C E
Just a voice rising up in the smoky haze

(*)

F G C
We will not go down
Am G
In the night, without a fight
F C
You can burn up our mosques and our homes and our schools
Am G
But our spirit will never die
F C G
We will not go down
E Am
In Gaza tonight

Am C
Women and children alike
G Am
Murdered and massacred night after night
C Am
While the so-called leaders of countries afar
G Am
Debated on who’s wrong or right

Dm Am
But their powerless words were in vain
Dm Am
And the bombs fell down like acid rain
G Am
But through the tears and the blood and the pain
C E
You can still hear that voice through the smoky haze

F G C
We will not go down
Am G
In the night, without a fight
F c
You can burn up our mosques and our homes and our schools
am G
But our spirit will never die
F c G
We will not go down
E Am
In Gaza tonight

Dm Am G Am G E 2X

F G C
We will not go down
Am G
In the night, without a fight
F C
You can burn up our mosques and our homes and our schools
Am G
But our spirit will never die
F C G
We will not go down
Am
In Gaza tonight



Senin, April 06, 2009

...............................................................................................
................................................................................................
Ga tau mo mulai nulis darimana.....!!!!
sejak kecil kehidupan aku biasa aja, seneng maen layaknya anak-anak kecil lainnya. Begitu juga waktu aku ngerasain gimana jadi seorang pelajar putih abu-abu; juga ga biasa aja, termasuk cimon-cimon gitu (alias cinta monyet). Jangan dipikir kalo aku mirip monyet makanya ga ada cewe' yang nerusin hubungan itu. Saat jadi mahasiswa pun juga biasa-biasa aja. Tapi kenapa kalo urusan yang satu ini selalu aja jadi problem bagi kebanyakan orang, termasuk aku. Ya....Bener...apalagi kalo bukan yang namanya "love".Bagiku tidaklah mudah untuk menyatakan perasaan ini terhadap seorang cewe'. m....setelah kilas balik kehidupan cintaku, ternyata memang bener, ga banyak cewe' yang pernah mendengarkan kata hati ku ini. Waktu jamannya cimon, ...beberapa cewe' yang pernah dengerin kata hatiku lewat bibir ini ga pernah nolak bahkan ada juga mereka yang ngutarain perasaan mereka (stay cool mode on). Namun sekarang, aku ga ngeh...apa sebenernya yang namanya "love". Dulu aku pernah ngutarain apa yang aku rasain terhadap satu orang cewe' yang menurutku tepat. Tapi al-hasil, aku ditolak (aeg.......hhhhhhhhhh................####..............). Mungkin karena rasa ini tulus, ga ada penyesalan, kecewa, bahkan dendam sekalipun sama tu cewe'. Emang sih rasa itu sudah lama banget bersarang di lubuk hati ini tapi setelah kurang lebih 1 tahun baru bisa aku utarakan. m.....waktu yang tidak lama untuk membuat rasa itu telah mendirikan pondasi yang kokoh di dalam hati ini hingga saat ini rasa itu tetep ada. Mencoba untuk instropeksi diri, dengan status mahasiswa ini aku mulai berfikir jernih bahwa "dia" telah menganggap ku sebagai seorang sahabat yang tak layak untuk naik statusnya. Bisa jadi sahabat aja aku sudah seneng karena tetep bisa bersamanya. Setelah beberapa waktu, aku merasakan bahwa rasa ini semakin mengganggu kehidupan ku. Kenapa aku?ada apa dengan diriku ini? Rasa itu mulai menunjukkan aliran negatifnya yang membuat aku cemburu padanya. Memang selama ini "dia" terlihat menjaga perasaanku tapi aku sungguh merasa cemburu ketika tau dia telah ..... Sekali lagi aku mencoba untuk menenangkan diri ini, mencoba menerima realita kehidupan ini, mnecari cara agar rasa itu hilang dari hari ini. Akupun mulai mencari kesibukkan lain, dengan berbagai aktifitas di kampus, mencari temen-temen baru berharap ketumu cewe' lain yang bisa menggugah hatiku ini tetapi, "dia" bener-bener telah berakar di dalam hati ini. Mencoba kembali menjalin hubungan yang baik sebagai intermezo untuk masuk dalam kehidupannya, namun aku tidak bisa mengetuknya. Aku mulai putus asa!!!Aku mencoba berbalik arah namun "dia" telah menabur benih rasa itu lagi. Aku ingin marah tapi kepada siapa??? Aku mulai membiasakan diri ini untu menyendiri dan hanya menemui teman-teman yang dapat melupakan aku terhadap dirinya. Tapi mengapa ada-ada aja suatu hal yang bisa membuat aku kembali teringat kepadanya. Huh.........ternyata memang benar kata orang "semakin kita melupakannya, semakin kuat rasa itu". Mungkin itu yang aku alami, selain dia terus ada dihadapan ku dan aku selalu mencuri perhatian. Apakah salah kalo aku **** padanya??? Beberapa sahabatku mencoba memberikan nasehat agar aku tidak terlalu hanyut dalam rasa itu. Dan akupun mulai rasional dan menerima kenyataan ini. Hingga sekarang aku tetap berusaha untuk membatasi rasa ini. Sahabatku mulai memberikan penilaian tanpa tau sesungguhnya yang aku rasakan, tetapi aku sedikit bangga terhadap diriku karena menurut sahabatku aku mulai menggunakan logika+nalar yang selama ini menjadi ciri khas ku dimata para sahabatku.Setelah aku sadari, diri ini mulai kembali normal walaupun rasa itu tetap ada dan tanpa berkurang kadarnya. Aku telah mampu mengendalikan perasaan dan nalar ini walaupun aku tau bahwa dia telah ada yan memiliki termasuk sahabatku yang lain mencoba memancing rasa itu kembali kepermukaan, namun aku telah membelenggunya.

Rabu, April 01, 2009

Hiuf......!!!

Agama, pendidikan, prestasi dan teman itulah yang kita butuhkan dalam menjalani kehidupan ini. Begitu juga dengan ku, aku merasa sesungguhnya aku belum mensyukuri atas apa yang telah aku nikmati selama ini. Saat ini, aku tak mengerti apa yang sedang aku rasakan. Aku merasa sangat kecil dan tak berarti dihadapan sang Khalik. Terlepas dari itu semua, aku merasa sahabat-sahabat ku kian menjauh dengan kesibukannya masing-masing. Namun disisi lain, aku menemukan sesuatu yang tak ku kira ini akan terjadi padaku.
Aku merasakan ...sebuah perubahan yang begitu cepat dan sangat berarti atas apa yang aku miliki dan bisa ku berikan pada orang-orang terdekat ku saat ini. Aku merasa inilah saatnya apa yang dinamakan ”to be a winner : all you need is to give all you have”.Aku mengerti apa yang dirasakan sobat-sobatku, tapi apa kalian mengerti apa yang aku rasakan, sob ??? Jika orang lain mampu melewati setiap cobaannya, mengapa aku tidak ? Keyakinan ku semakin tumbuh atas apa yang sedikit aku miliki.
Aku memiliki teman yang menjelma menjadi sobat ku saat ini. Mereka sangat menggantungkan sebagian kepercayaan mereka yang kental kepada yang ku miliki sedikit. Sekali lagi, aku merasa eksistensi diriku bertambah dengan minim.
Kita tidak boleh begitu cepat melupakan sekecil apapun kebaikan yang kita terima. Begitu juga dengan apa yang ku alami. Aku percaya, dalam kehidupan ini tidak ada yang dapat sesali semata-mata atas kesalahan ku sendiri. Aku mencoba menginstropeksi aku yang dulu, begitu banyak tanda tanya dan kesamaran yang ku dapatkan. Aku sendiri tak mengerti mengapa begitu aku yang dulu ? Mencoba mereview kritikan dan nasihat dari orang-orang yang menyayangi ku, begitu berat rasanya kesesalan yang ku rasakan, tetapi apa yang pantas aku sesali dari kesalahan ku? Aku yang dulu merasa sangat hina dari aku.
Trust me. Itulah yang aku tanamkan dalam kesuburan jiwaku yang kian berkembang dengan pupuk nasehat dan kritik varietas yang ku dapatkan cuma-cuma agar bisa buktikan sesungguhnya aku ada dan tidak seperti kebanyakan orang yang mendapat images hanya akibat pandangan sebelah mata. What was going on.
Apa yang mereka tuduhkan padaku ? Suara hati yang menjerit tanpa gema tak satupun dapat mendengar bisiknya. Positive thinking yang bisa ku deskripsikan dalam benakku tanpa menambah semua kesesalan yang akan kurasakan. Mengundang temanku untuk membebaskan diri dari keredupan hidup ini yang sedang ku coba. Tetapi mengapa mereka hanya . . . ah, mungkin mereka tidak bisa mendengar bisik jerit suara hatiku atau mungkin mereka telah merencanakan sesuatu dalam hidupnya. Setitik cahaya keberhasilan memang telah di depan mata, tetapi apa mereka tahu di sekelilingnya terdapat tembok yang begitu kuat dan tebal yang diselimuti hawa kesesalan yang begitu kabut ! Kita berada dalam lingkungan yang sama namun tak seperti tempurung, mengapa kita tidak mencoba mengehempaskan perlahan kabut hawa kesesalan yang menghalangi cahaya keberhasilan itu???